Thursday, February 25, 2021

Riyanarto Sarno, Gubes ITS Ciptakan i-nose C-19 Pendeteksi Covid-19

Riyanarto Sarno, Gubes ITS Ciptakan i-nose C-19 Pendeteksi Covid-19

Riyanarto Sarno, Gubes ITS Ciptakan i-nose C-19 Pendeteksi Covid-19











BERKAT AI: Prof Riyanarto Sarno (dua dari kanan) menjelaskan cara kerja i-nose C-19 dengan disaksikan Menristek dan Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro serta mantan Mendikbud M. Nuh. (Prof Riyanarto for Jawa Pos)




Prof Riyanarto Sarno terus berinovasi di bidang artificial intelligence (AI) untuk kesehatan. Yang terbaru, guru besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tersebut menciptakan i-nose C-19, alat skrining Covid-19 dengan menggunakan bau keringat ketiak.


NAMA Prof Riyanarto Sarno banyak dikenal sejak meluncurkan alat pendeteksi Covid-19 dari bau keringat bernama i-nose C-19 beberapa pekan lalu. Alat tersebut digadang-gadang menjadi salah satu alternatif alat skrining Covid-19 yang efisien dan efektif hanya melalui bau keringat ketiak. Inovasi itu juga sudah diuji profil di sejumlah rumah sakit di Surabaya. Sejatinya, i-nose bukanlah inovasi baru bagi Riyanarto.




Pria 61 tahun tersebut sudah memulai riset electronic nose (hidung buatan) sejak 2015. Kekuatan alat itu adalah dapat membau seperti manusia.


"Jadi, sebetulnya munculnya i-nose tidak tiba-tiba," kata guru besar Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu kepada awak media Jawa Pos melalui daring.


Pria yang membidangi artificial intelligence (AI) untuk kesehatan itu mengatakan, awalnya i-nose dibuat untuk mengenali daging sapi yang terdapat campuran daging babi. Kemudian, dikembangkan untuk mengenali tembakau gorila (atau tembakau yang dicampur ganja).


"Biasanya untuk mengenali itu bisa menggunakan kemampuan anjing dalam mencium. Namun, anjing hanya mampu mengenali campuran ganja sekitar 15 persen. Kurang dari itu, anjing tidak tahu," ujarnya.


Sementara itu, dengan electronic nose, lanjut dia, kemampuan mengenali bau campuran tersebut bisa sampai 10 persen. Selain itu, electronic nose bisa membedakan formalin di dalam makanan. "Pokoknya semua tentang bau dapat dikenali dengan electronic nose," ucapnya.


Bahkan, electronic nose bisa digunakan untuk melihat kualitas buah-buahan, daging segar, dan lain-lain. Bahkan, dapat mengklasifikasi kualitas tersebut hingga menjadi 3–5 kelas. "Bergantung mau dimanfaatkan seperti apa," lanjut dia.


Dari situlah, Riyanarto mulai berpikir berbagai kemungkinan electronic nose ciptaannya untuk mengenali virus SARS-CoV-2. Apalagi, pandemi Covid-19 di Indonesia dan berbagai negara lain belum bisa ditekan. "Saya berpikir bagaimana cara bisa mengenali Covid-19 dengan electronic nose. Umumnya, dari biomarker indikator atau penciri di daerah yang ada penyakitnya," ucapnya.


Suami Dra Winta Anindyarini itu menuturkan, untuk Covid-19, biasanya virus paling banyak berada pada napas melalui mulut dan ludah. Karena itu, tidak boleh ada droplet atau aerosol (partikel yang lebih lembut). "Kalau bersin, bisa muncul aerosol," tuturnya.


Rata-rata penelitian lain menggunakan napas untuk mengecek Covid-19. Riyanarto pun berupaya mencari penciri yang noninfeksius untuk bisa mendeteksi Covid-19. "Saya mencari jurnal penciri di marker Covid-19 dari keringat belum ada. Namun, London dan Dubai sudah menggunakan anjing pelacak narkoba yang dilatih untuk mendeteksi Covid-19. Dan, anjing itu tidak sakit," tuturnya.




Riyanarto mengatakan, kendala pada tahap uji profil adalah pengambilan sampel yang tidak mudah. Sebab, Covid-19 merupakan penyakit yang sangat menular. Jadi, pengambilan sampel dilakukan di rumah sakit dengan perlindungan yang memenuhi prosedur standar operasional. "Kami melakukan uji profil di sejumlah rumah sakit di Surabaya. Di antaranya, RSUD dr Soetomo dan RSI Jemur Wonosari," tuturnya.


Saat ini sudah cukup banyak data yang dikumpulkan. Harapannya, uji profil bisa tuntas pada Maret. Kemudian, dilanjutkan uji diagnostik dengan target tiga bulan. ’’Mudah-mudahan Oktober sudah selesai,’’ imbuhnya.


Dari hasil uji profil dengan ratusan data yang telah dikumpulkan, akurasinya sudah mencapai 91 persen. Tim teknis dan medis dari ITS dan rumah sakit yang bekerja sama terus berkoordinasi. "Setiap alat i-nose C-19 bisa terhubung dengan cloud. Jadi, kami terus memantau dari jauh sekalipun," kata kakek Kaia Paramita Sarno itu.


Menurut dia, selama ini banyak kasus Covid-19 tanpa bergejala. Mereka yang tidak menyadari membawa virus Covid-19 dapat menularkan ke orang yang sehat. Karena itu, i-nose sangat pas untuk skrining.


"Selain itu, biayanya sangat murah. Rata-rata dengan i-nose, biaya per sampel bisa hanya Rp 15 ribu," kata dia.


Alat i-nose C-19 berbentuk kotak dengan warna merah. Ada slang panjang berukuran 60 sentimeter. Di ujungnya terdapat balutan kasa. Cara kerjanya, i-nose dapat mengisap bau keringat selama tiga menit. Setelah diproses, kira-kira setengah menit sudah diketahui hasilnya. "Hasilnya dapat dikirimkan melalui WhatsApp," ujarnya.













⚠ Peringatan Covid-19





































Update kasus virus corona ditiap negara