Wednesday, December 23, 2020

Cara Terbaik Mengajarkan Matematika pada Anak

Cara Terbaik Mengajarkan Matematika pada Anak

Cara Terbaik Mengajarkan Matematika pada Anak













Cara terbaik mengajarkan matematika pada anak - anak usia 6 sampai dengan 8 tahun adalah dengan mengajarkannya menggambar dan menghapal hitungan penjumlahan, pengurangan dan perkalian angka 1 sampai dengan 10.




Dalam beberapa dekade terakhir banyak anak diarahkan dengan kumon. Kumon ini berasal dari Jepang. Kami tidak melihat metode kumon itu metode terbaik untuk meningkatkan potensi nalar dan kognitif anak.


Pada tingkatan tertentu metode kumon ini cocok untuk anak - anak, namun pada tingkatan berikutnya ditambah lagi berbagai inovasi dalam metode pembelajaran menggunakan kumon yang tujuannya ingin seorang anak memiliki kemampuan matematika diatas rata - rata pada ujungnya mereka saat remaja akan menemukan kesulitan untuk memecahkan masalah hitungan.


Belum nanti berhadapan dengan soal uji dengan model HOTS. Walaupun model soal HOTS ini menurut Kami hanya sekedar ingin menunjukkan si pembuat soal ini hebat, yang ujungnya berakhir pada status banyak anak atau remaja tidak menyukai pelajaran hitungan matematika, fisika dan kimia.


Menanamkan kecintaan anak pada soal hitungan tidaklah diawali dengan diajarkan berhitung, karena ini berkaitan dengan kekosongan file diselaput otaknya.


Kekosongan file diselaput otak ini, adalah dalam hubungan penyimpan data atau perekaman apa yang dilihat didengar, ditulis dan dikatakan.


Dalam hubungan file, otak seorang anak itu ibarat sebuah Harddisk baru belum terisi file. Maka untuk mengajarkan hitungan pertama kali yang harus diisi adalah mengingatnya, cara untuk mengingat bukan dengan mengajarkan berhitung. Tapi dengan menghapal, imla.


Kemudian memberikan mereka pensil berwarna dan kertas untuk membuat coretan - coretan atau gambar atau lukisan dari apa yang pernah dilihatnya dalam kehidupannya.


Biarkan mereka berkreasi membuat coretan berdasarkan imajinasinya ini penting dalam melatih konitif anak. Sedangkan hapalan untul melatih nalarnya.


Dan memang sulit untuk melakukan ini karena kurikulum yang di kelas 1 SD sampai denngan kelas 3 SD sudah dihujani berbagai model berhitung yang ini juga menimbulkan kekhawatiran dari sebagian para orang tua khawatir jika nantinya anaknya akan kesulitam menghadapi soal hitungan, kemudian membantu mereka dan atau membawanya ke tempat bimbingan belajar. Kondisi ini memang tidak bisa disalahkan pada orang tua.




Padahal yang dibutuhkan anak diantar seusia itu adalah belajar kemandirian bukan bantuan, belajar bersosialisasi sehingga ketika dalam pembelajaran mereka melakukan kesalahan, anak akan berinteraksi dengan temannya untuk menemukan jalannya yang benar.


Jadi inti porsi yang harus diberikan pada anak adalah hapalan dan melatih imajinasi dengan menggambar.


Peran orang tua pada usia seperti itu adalah mengajarkan kehidupan yang baik mengajarkan etika mana yang baik dan mana yang tidak baik, mana yang pantas dan mana yang tidak pantas. Ini untuk membangun sikologi yang tangguh dikemudian hari.


Semoga betmanfaat.

















⚠ Peringatan Covid-19





























Update kasus virus corona ditiap negara